Berkenalan Dengan Dzikir

Oleh: Ustaz Khairul Anwar
Pengasuh Majelis Asma Dzikir Dzikir



Secara definitif dapat disimpulkan sebagai upaya mengingat nama Allah dengan hati dan menyebut-Nya dengan lisan. Secara maknawi, dzikir merupakan tempat persinggahan orang-orang yang agung, tempat mereka berniaga, sebagai ikhtiar pembekalan, ketika dan untuk pulang kembali ke haribaan Allah SWT kelak.

Dzikir adalah Makanan Hati

Dzikir merupakan santapan hati. Jika hati tidak mendapatkan santapan ini, maka badan menjadi seperti kuburan yang mati. Dzikir merupakan senjata yang digunakan untuk menghadapi gangguan dan godaan dalam sebuah ikhtiar menuju rida Allah SWT.

Dzikir merupakan air yang bisa menghilangkan dahaga di tengah perjalanan dan merupakan obat yang menyembuhkan penyakit. Jika mereka tidak mendapatkannya, maka hati mereka akan mengkerut, karena dzikir merupakan perantara dan penghubung antara diri mereka dengan alam gaib.

Dengan dzikir kita dapat menyingkirkan kesusahan dan tidak terbebani dengan cobaan yang menimpa. Dalam hal ini, dzikir mampu mendatangkan ketenangan dan rasa pasrah diri kepada yang Mahakuasa. Ketika ada bencana atau musibah datang, dzikir adalah tempat perlindungan aman sebagai refleksi memohon pertolongan dari Allah.

Pada hakikatnya, dzikir merupakan taman surga bagi kita sebagai modal kebahagiaan yang menghantarkan Ahli Dzikir kepada Dzat yang dizikiri. Dalam tahapan ini, kita bisa menyebutnya sebagai proses penyatuan (tajalli) dengan dzat Allah SWT.

Dalam banyak kisah yang tersampaikan dalam berbagai referensi, dzikir dalam konteks ini membuat seorang Ahli Dzikir menjadi orang yang lupa akan dunia dan sekitarnya, seakan merasa dirinya tidak layak untuk diingat.

Dzikir Adalah Perbuatan Hati

Sebagaimana yang telah tersyiarkan dalam syariat bahwa terdapat ubudiyah (ibadah) layaknya sholat wajib lima waktu, zakat, puasa dan haji yang dilakukan secara temporal, yang mana pelaksanaanya melibatkan anggota tubuh. Berbeda dengan dzikir yang merupakan ubudiyah hati, lisan dan tidak mengenal batasan waktu.

Dzikir adalah media utama dan sangat efektif dalam mengingat Allah SWT. dalam keadaan seperti apapun (saat berdiri, duduk, dan terlentang). Jika surga itu merupakan kebun, maka dzikir adalah tanamannya. Begitu pula hati yang bisa diibaratkan bangunan yang kosong, maka dzikirlah yang membuat bangunan itu semarak.

Dzikir adalah pembersih dan pengasah hati serta obatnya, di saat hati itu sakit. Selain orang berdzikir semakin tenggelam dalam dzikirnya, maka cinta dalam kerinduannya semakin terpupuk terhadap dzat yang ingat. Jika ada keselarasan antara hati dan lisan, maka pelakunya akan lalai terhadap segala sesuatu. Sebagai gantiya, Allah akan menjaga dari segala sesuatu. 

Dzikir Merupakan Pintu Allah Yang Paling Lebar

Dengan dzikir, pendengaran menjadi terbuka, lisan tiada kelu dan kegelapan menyingkir dari pandangan. Dengan dzikir, Allah akan menghiasi pandangan orang-orang yang bisa memandang dengan cahaya.

Lisan yang lalai seperti mata yang buta, telinga yang tuli dan tangan yang buntung. Dzikir merupakan pintu Allah yang paling lebar dan besar, terbuka di antara Allah dan hamba-Nya, selagi pintu itu tidak ditutup sendiri oleh hamba dengan kelalainnya. 

Hasan Al-Bashri berkata “Carilah kemanisan dalam tiga pekara: dalam Sholat, dalam dzikir dan membaca Al-Qur’an. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan tertutup.” 

Dengan dzikir, seorang hamba bisa mengalahkan setan, sebagaimana setan yang dapat mengalahkan orang-orang yang lalai dan lupa diri. Di antara ulama salaf ada yang berkata, “Jika dzikir ada di dalam hati, lalu setan mendekatinya, maka setan itu langsung kalah, sebagaimana manusia yang dikalahan setan jika setan mendekatinya. Dalam keadaan kalah ini setan-setan berkerumun di kelilingnya. Diantara mereka bertanya, “Ada apa dengan orang ini? Yang lain menjawab, “Dia sedang gila.” 

Dzikir merupakan ruh amal-amal yang shalih. Jika amal terlepas dari Dzikir, maka amal itu seperti badan yang tidak memiliki ruh.

Dzikir di Dalam al-Quran

Di dalam al-Qur’an, setidaknya ada sepuluh redaksi “dzikir” yang dihubungkan dengan sepuluh versi yang berbeda, yaitu:
1. Perintah dzikir secara terbatas dan tidak terbatas.
2. Larangan kebalikannya, yaitu lalai dan lupa.
3. Keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kontinuitasnya.
4. Pujian terhadap pelakunya dan informasi tentang surga dan ampunan yang dijanjikan Allah bagi mereka.
5. Informasi tentang kerugian yang mengabaikan dzikir dan sibuk dengan yang lainnya.
6. Allah mengingatkan orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balasan bagi mereka
7. Informasi bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu.
8. Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amal-amal yang shalih dan sekaligus sebagai kuncinya.
9. Informasi tentang para pelakunya, bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah dan merekalah orang-orang yang berakal.
10. Allah menjadikan dzikir sebagai pendamping segala amal yang shalih dan ruhnya. Jika amal tidak disertai dzikir, maka ia seperti jasad tanpa ruh. Kesepuluh versi di atas, insya Allah, akan diuraikan pada tulisan selanjutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan link

Iklan Tengah Artikel 1 baru

Iklan Tengah Artikel 2 baru

Iklan Bawah Artikel