Dzikir Di Dalam Al-Quran


Oleh: Ustaz Khairul Anwar
Pengasuh Majelis Asma Dzikir

Gambar dari sini
Di dalam al-Qur’an, Allah SWT sangat nyata dan  tegas menyeru kita untuk berdzikir dan mengingat-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٤٢﴾ هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا 
”Hai orang –orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian dan malaikat-Nya (memohon ampunan untuk kalian), supaya dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang) Dan aalah dia yang maha penyanyang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)
 وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ 
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”(QS. Al-A’raf: 205)
Terdapat dua pendapat mengenai ayat di atas, yaitu: Pertama, berdzikirlah di dalam hatimu dan sembunyi-sembunyi. Kedua, dengan lisan, sehingga engkau pun mendengarnya.
Baca juga : 
      Al-Quran Melarang Lalai
Orang yang tidak berdzikir, di dalam al-Quran, disebut orang yang lalai. Lalai adalah antonim dzikir. Dia melarang manusia menjadi manusia yang lalai, sebagaimana di dalam firman Allah,
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”( QS. Al-A’raf: 205)
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. Al-Hasyr:19)
Al-Quran Menetapkan Sebagai Orang Yang Beruntung Bagi Orang Yang Berdzikir
Tentang keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kontinuitas, Allah berfirman:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ 
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.(QS. Al-Anfal: 45)
     Al-Quran Memuji Orang Yang Berdzikir
Pujian terhadap pelakunya dan kebaikan pahala mereka, disebutkan di dalam firman Allah:
 إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS. Al-Ahzab: 35)
Al-Quran Menyatakan Rugi Bagi Orang Lalai
Kerugian orang yang mengabaikan dan melalaikan dzikir disebutkan di dalam firman  Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ
 يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ  
“Hai orang-orang yang beriman , janganlah harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah . barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Orang Yang Berdzikir, Diingat Allah
Allah mengingat orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balasan dari mereka, seperti firmannya :   
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah:152)
Dzikir, Lebih Besar Dari Apapun
Informasi bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu, seperti firmannya:        
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ 
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Ankabut: 45)
Ada tiga pendapat tentang makna lebih besar di sini. Pertama, mengingat Allah lebih besar dari segala sesuatu dan merupakan ketaatan yang paling utama. Sebab maksud dari seluruh ketaatan adalah menegakkan dzikir kepada Allah, sehingga dzikir ini merupakan rahasia dan ruh ketaatan. Oleh karenanya, jika kita mengingat Allah, maka Allah mengingat kita. Sementara pengingatan Allah terhadap kalian lebih besar dari pengingatan kalian kepada-Nya.
Kedua, mengingat Allah itu lebih besar dari pada membiarkan kekejian dan kemungkaran. Bahkan jika dzikir ini lebih sempurna, maka dzikir itu  bisa menghapus segala kesalahan dan kedurhakaan. Begitulah yang disebutkan para mufasir.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Makna ayat ini, bahwa di dalam Sholat terkandung dua faidah yang sangat besar, yaitu: Fungsi sholat itu yang bisa mencegah kekejian dan emungkaran, kandungan sholat itu terhadap dzikir kepada Allah. Kandungan dzikir ini lebih besar daripada fungsi pencegahanya terhadap kekejian dan kemungkaran.”
Ketiga, amal-amal yang shalih ialah dengan dzikir, seperti dzikir seperti penutup puasa. Firmannya;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Baqarah: 185)
     Orang Yang Berpikir Adalah Orang Yang Berakal
Tentang pengkhususan orang-orang yang berdzikir, yang bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari ayat-ayat Allah, sehinggga mereka disebut pula orang-orang yang berakal, disebutkan di dalam firman-Nya;
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾ رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ
 أَنْصَارٍ 
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam tetrdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali-Imran: 190-192)
      Dzikir Adalah Ruh Ibadah
Dzikir merupakan ruh shalat. Allah menyertakan dzikir dan Shalat di dalam satu ayat, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya;
 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي 
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS. Thaha: 14)
Allah menyertakan dzikir dengan puasa, haji dan amal-amal lainnya, dan bahkan menjadikan dzikir itu sebagai ruh haji dan intinya, sebagaimana sabda Nabi ShallAllahu Alaihi wa sallam,”Sesungguhnya thawaf disekeliling ka’bah, sa’i anatara Shafa dan Marwah dan melempar jumrah itu dijadikan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah.”
Allah juga menyertakan dzikir dengan jihad, meminta berdzikir saat berhadapan dengan pasukan musuh, sebagaimana firman-Nya;
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  
 “Hai orang-orang yang beriaman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka bertegu hatilah kalian dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.(QS. Al-Anfal: 45)

Dzikir yang disebutkan untuk mengiringi haji, terdapat di dalam firman-Nya;
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ 
 “Apabila kalian telah menyelesaikan ibdah haji kalian maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kalian menyebu-nyebut nenek moyang kalian atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Dzikir yang disebutkan untuk mengiringi shalat, terdapat di dalam firman-Nya,
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ
فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا 
 “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS. An-Nisa’:103)
Dzikir yang disebutkan untuk mengiringi shalat jum’at, terdapat di dalam firman-Nya;
 فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
 وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 “Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kalian dimuka bumi, dan cari karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan link

Iklan Tengah Artikel 1 baru

Iklan Tengah Artikel 2 baru

Iklan Bawah Artikel