Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menanam Dzikir Ke Dalam Hati


Oleh: Jamal Ke Malud
Penulis Lepas

“Om Ka, ngapain melamun terus?” sapa Sudrun, pagi itu. sudah menjadi kebiasaan Sudrun, memanggil semua temannya dengan panggilan Om. Firka hanya tersenyum.

(sumber gambar)
“Melamun gimana. Lah ini saya sedang mungutin sampah”, jawab Firka. Firka adalah tukang sampah. Setiap pagi, kerjanya adalah memungut sampah di jalan, lalu menyortirnya. Sampah yang bisa dijual, dia jual. Sampah yang tidak bisa dijual, dia bersihkan dan diserahkan kepada tukang daur ulang.


Tanpa sepengetahuan Firka, Sudrun adalah seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah swt untuk bisa membaca isi hati seseorang. Hanya saja, kemampuan itu hanya bisa membaca isi hati yang baik. Sedangkan isi hati yang jahat tidak bisa dia baca.


Dengan anugerah Allah swt itu, Sudrun mengetahui bahwa hati Firka sedang berdzikir “Allah. Allah. Allah”. Tetapi anehnya, pagi ini Sudrun seperti membaca sesuatu yang lain. Sambil memungut sampah, Sudrun ngobrol dengan Firka panjang lebar untuk mengorek apa sebenarnya sesuatu yang lain itu.


“Om, dzikir itu apa?” tanya Sudrun mengawali obrolannya.

“Dzikir itu mengingat”, jawab Firka.

“Mengingat bagaimana?”, Sudrun melanjutkan pertanyaannya.

“Selalu mengulang-ulang nama kekasihmu di dalam hatimu”, jawab Firka.

“Jadi, Firka sekarang sedang berdzikir?” Sudrun men-skak mat Firka.

Firka kaget. Bagaimana mungkin Sudrun mengetahui isi hatinya. Dengan tenang, Firka menjawab, “Dzikir itu ada dua. Dzikir dengan lisan dan dzikir dengan hati”.

“Jika seseorang berdzikir ‘Allah. Allah. Allah’, di dalam hatinya. Dzikir apa itu?”, Sudrun men-skak mat lagi.


Firka semakin kaget. Tetapi, dzikirnya membuatnya selalu tenang, lalu dia menjawab, “Dzikir di dalam hati itu disebut dzikir khafi (tersembunyi)”.

Sudrun kaget juga, tak disangka Om Firka yang tukang sampah itu tahu banyak tentang dzikir. “Mulai sekarang, saya tidak akan meremehkan siapapun”, gumam Sudrun di dalam hatinya.

“Tidak usah kaget, om. Tadi saya mendengar ceramah kiai sepuh. Katanya, ada dzikir isim mufrad atau ‘dzikir Allah. Allah. Allah’” ucap Sudrun.

“Untuk berdzikir seperti itu, perlu ditanam oleh seorang mursyid. Tidak sembarang orang boleh menanamnya”, Firka menjawab.

“Ditanam gimana, om?”, Sudrun mengernyitkan dahinya tanda tak paham.
“Menanam benih isim mufrad itu ke dalam hatimu”, jawab Firka. Sudrun manggut-manggut berusaha memahami jawaban Firka.

Tak terasa adzan Dzuhur berkumandang. Obrolan masih terus berlanjut. Sudrun memperhatikan, selama ngobrol dengan Firka, hati Firka tidak pernah berhenti berdzikir, meskipun lidahnya berbicara dengannya. Sudrun bergumam di dalam hatinya, “Barangkali ini yang disebut ‘badan bersama manusia, tetapi hati bersama Allah’”.

“Jika saya tidak kunjung bertemu dengan mursyid, lalu gimana?” tanya Sudrun serius.

“Bacalah shalawat di dalam hatimu”, jawab Firka sambil memungut sampah di jalan. Sampah yang dipungut, dia taruh ke dalam karung di punggungnya.

“Shalawat apa?”

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad. Itu sudah cukup”

“Kapan waktunya?”

“Cobalah seminggu dulu!”

“Jika sudah seminggu?”

“Jangan banyak nanya!. Kerjakan aja dulu!”

“Kalau Om gimana?”

Gimana apanya?”, Firka balik bertanya.

Ntar bisa mengganggu aktifitas saya, Om”, kata Sudrun

“Ganggu apaan. Lah kerjamu cuma main game on-line aja”, Firka balas men-skak mat Sudrun.

“Yah tetap aja itu mengganggu aktifitas, Om”, jawab Sudrun datar.

“Drun, dzikir itu di hati. Hatimu saja yang berdzikir. Sedangkan anggota badanmu yang lain tetap leluasa melakukan apa saja. Jadi, tidak ada yang mengganggu dan tidak ada yang diganggu”, Firka menjelaskan dengan panjang lebar.

“Hmm...” Sudrun berusaha memahaminya. Dia berniat, selama seminggu akan mendengungkan shalawat di dalam hatinya. Setelah seminggu, dia akan mendatangi om Firka, tukang sampah yang hatinya sudah hidup itu.