Arab Saudi: Sebar Hoax Corona, Denda 12 Milyar Dan Penjara 5 Tahun



Belakangan ini muncul banyak berita hoax seputar virus corona. Dilansir dari saudinesi.com, setidaknya ada enam (6) kabar yang beredar di linimasa media sosial.

Pertama, berdedar sebuah video perayaan sejumlah orang dijalan karena telah dicabutnya status jam malam. Yang sebenarnya adalah berita itu terjadi di Uni Emirates Arba (UEA) bukan di Arab Saudi.

Kedua, berita mengenai dibukanya masjid di seluruh wilayah Arab Saudi. Kabar akan dibukanya masjid berasal dari screenshot dekrit Raja Salman yang tercantum tanggal 01 Mei 2020. Namun kementerian urusan agama Arab Saudi membantah berita tersebut dan menyatakan tidak sohih.


Ketiga, warna negara asing (WNA) diusir dari Arab Saudi. Kabar yang beredar tersebut kemudian disanggah oleh petugas imigrasi Riyadh Arab Saudi. Lebih jelas petugas imigrasi mengatakan “bagaimana mungkin Raja Salman mengusir warga negara asing, sementara ia memerintahkan untuk memberi pengobatan kepada seluruh ekspatriat” imbuhnya.

Keempat, beredar berita penghapusan hukum cambuk. Berita yang sesungguhnya adalah penghapusan ta’zir, yaitu hukuman yang tidak ditetapkan dalam syariat Islam.

Kelima, Berita dari media asing yang menyebut Ekonomi Arab Saudi Anjlok karena minyak mentah dunia turun dan karena virus corona. Faktanya, Arab Saudi menyumbang $10 juta WHO, SR 5 juta untuk buka puasa di 18 negara dunia.

Kelima, 150 pangeran Arab Saudi terinfeksi corona. Berita tersebut diangkat oleh New York Times kemudian Times of Israel dan dinukil Al Jazeera Qatar. Penulisnya adalah Ben Hubbard dari Lebanon.

Perkembangan kasus virus corona di Arab Saudi semakin bertambah banyak. Dilansir dari data kementerian kesehatan Arab Saudi peningkatan jumlah pasien corona terus bertambah.

Pemerintah Arab Saudi menetapkan peraturan baru terkait pencegahan penyebaran berita hoax seputar virus corona. Arab Saudi benar-benar serius akan memberikan sanksi yang amat berat bagi warganya dan ekspatriat yang terbukti menyebarkan berita bohong seputar virus corona.

Warga Saudi dan ekspatriat (orang asing yang bekerja di Saudi) yang menyebarkan desas-desus atau berita hoax di media sosial terancam dipenjara hingga lima tahun dan didenda SR3 juta ($ 800.000) langkah ini bertujuan untuk melawan informasi palsu yang beredar mengenai pandemi virus corona.

Langkah diatas sebagai bentuk dukungan kepada kementerian kesehatan Arab Saudi, kementerian dalam negeri dan pengurus haramain (masjidil Haram dan masjid Nabawi) dalam rangka mencegah penyebaran berita bohong terkait virus corona.

Pemerintah menegaskan bahwa berita seputar perkembangan kasus virus corona hanya dari otoritas berwajib, kementerian kesehatan, kementerian dalam negeri dan entitas lainnya yang berwenang dan kredibel.

Jaksa Penuntut Umum Saudi memperingatkan bahwa tindakan hukum akan diambil terhadap orang-orang yang menyebarkan informasi yang salah dan berita hoax.

Pada hari Sabtu, juru bicara media untuk kepolisian wilayah Riyadh, Kolonel Shakir Al-Tuwaijri, menyoroti sebuah video yang beredar di media sosial di mana seseorang menyebarkan desas-desus tentang langkah-langkah yang diambil untuk mengekang penyebaran virus corona.

berita hoax lainnya termasuk perubahan jam malam yang direncanakan, peringatan akan kekurangan makanan, dan saran bahwa pejabat kesehatan dengan sengaja menyembunyikan jumlah kasus di Kerajaan.

Dalam sebuah kasus baru-baru ini, seorang penduduk Riyadh mengaku tahu kapan jamaah akan diizinkan untuk kembali ke Masjidil Haram.

Bagi teman-teman yang tinggal di Arab Saudi harap berhati-hati dalam menyebarkan berita terkait virus corona. Karena hukumannya sangat berat. Maka dalam kondisi seperti ini perlu bijak dalam mengambil sebuah berita.

Muksit Haetami
Pembimbing Umroh


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan link

Iklan Tengah Artikel 1 baru

Iklan Tengah Artikel 2 baru

Iklan Bawah Artikel