Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Berkah Sholawat Syajarotun Nuqud, Bisa ke Eropa


Bukan satu atau dua orang yang telah merasakan dampak dari keajaiban mengamalkan sholawat syajarotun Nuqud. Jutaan orang bahkan telah merasakannya.

Apa sesungguhnya yang mendorong orang untuk megamalkan sholawat syajarotun nuqud ini? Tentu banyak jawabannya.

Baca juga: Berkah Sholawat Syajarotun Nuqud, Orang ini Bisa Ke Tanah Suci Tiap Bulan

Ada yang mengamalkan karena ingin mendapat kemudahan dalam urusan rejeki, jodoh, dimudahkan dalam menggapai cita-cita dan lain sebagainya.

Ada juga yang mengamalka karena ingin mendapat kemudahan beasiswa ke luar negeri. Dan tidak sedikit yang megamalka sholawat syajarotun nuqud karena ingin hidupnya berkah dan bahagaia.

Semua itu tidak ada yang salah. Justeru yang salah adala mereka yang tidak bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Apa yang menyebabkan orang malas untuk bersholawat?

Bisa jadi karena beberapa faktor:

  1. Belum tahu fadhilah sholawat syajarotun nuqudBisa jadi, karena kurang pengetahuan tentang fadhilah atau keutamaan sholawat, sehingga menyebabkan orang tidak mau atau malas mengamalkan sholawat. Maka mulai sekarang cobalah untuk mengamalkan sholawat syajarotun nuqud. Karena fadilahnya sangat jelas. Bahkan Allah SWT dan para malaikatnya bersholawat keatas baginda Nabi Muhammad SAW.
  2. Sudah tahu fadhilah membaca sholawat syajarotun nuqud tetapi malas mengamalkannya

Bisa jadi alasan yang kedua ini datang dari faktor internal yaitu rasa malas dan suka menunda pekerjaan termasuk menunda mengamalkan sholawat syajarotun nuqud.

Pada tulisan kali ini, saya akan berbagi mengenai pengalaman pribadi tentang pengalaman mengamalkan sholawat syajarotun nuqud.

Sebelumnya, saya memang pernah mondok di Yayasan Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor.

Dan saat itulah saya bertemu dengan Abah (sapaan  para santri kepada Guru Besar Al Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abi Bakar bin Salim RA).

Secara jasad beliau telah tiada. Namun ruh dan semangat serta ilmu beliau senantiasa mengalir didalam jiwa-jiwa kami para santri dan alumni hingga sekarang dan sampai nanti maut memisahkan.

Lulus dari pesantren, saya kemudian memutuskan untuk berkhidmat di salah satu Masjid di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Hampir satu tahun saya berkhidmat di masjid tersebut. Tugas utama adalah menjadi imam sholat fardlu. Tetapi kadang membantu bagian kebersihan dalam membersihkan masjid.

Selama di Masjid itulah saya secara istiqomah mengamalkan sholawat syajarotun nuqud. Karena kondisi tempat dan waktu yang lumayan senggang akhirnya mendorong saya untuk terus istiqomah.

Dari Masjid, akhirnya banyak ketemu orang. Sering diajak makan malam dan hadir ke rumah para pengusaha yang tinggal di sekitar Masjid.

Hingga pada akhirnya, ketemulah saya dengan salah seorang pemilik travel haji dan umroh. Dari sana pintu menuju baitullah kian terbuka.

Berbekal keyakinan dan percaya pada diri sendiri, saya kemudian memberanikan diri untuk membawa jamaah umroh ke tanah suci.

Padahal saat itu saya masih belum ada pengalaman berangkat ke tanah suci meski hanya sebagai seorang jamaah, apalagi seorang tour leader.

Namun kekuatan sholawat syajarotun nuqud rupanya sangat kuat. Memberi dorongan positif pada diri saya untuk percaya bahwa saya bisa dan mampu membawa jamaah umroh ke tanah suci.

Setelah lancar membawa jamaah umroh ke tanah suci, saya kemudian dipercaya untuk membawa jamaah umroh plus Turki. Turki ini sebahagian Asia dan sebahagiannya lagi Eropa.

Secara bentuk tubuh, orang-orang Turki lebih mirip dengan orang barat. Badan tinggi besar dan berkulit putih. Berbeda dengan kebanyakan orang Asia yang relatif lebih pendek badannya.

Hingga saat ini, saya masih terus mengamalkan sholawat syajarotun nuqud setiap malam selepas sholat isya sebanyak 400 kali.

MuksitHaetami

Tour Leader Umroh