Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Begini Hukum Badal Haji!


Perkenalkan, saya Muksit Haetami. Bergelut di dunia umroh dan haji mulai tahun 2014 hingga sekarang. Jadi baru sekitar 6 tahun. Bekerja sebagai seorang Tour Leader Umroh, Muthawif, kadang juga sebagai marketing (mencari calon jamaah umroh & haji).

Pada tulisan kali ini, saya mencoba membahas seputar hukum badal haji.  Perlu dipahami bahwa kewajiban menunaikan ibadah haji memiliki syarat-syarat tertentu. Misalnya, hanya diwajibkan jika mampu.

Kalimat mampu diatas memiliki kandungan makna yang cukup luas. Bisa diartikan mampu secara dzahir dan juga mampu secara batin.

Mampu secara dzahir misalnya badan sehat, pikiran normal atau tidak gila, ongkosnya ada atau cukup, kemudian memiliki bekal yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan berhaji.

Sementara mampu secara batin adalah dilihat dari sisi mentalnya. Apakah memiliki gangguan jiwa atau tidak. Ini menjadi syarat bagi seorang Muslim untuk berhaji.

Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima ini, merupakan ibadah yang tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga fisik dan finansial.

Secara syariat, badal haji maksudnya adalah menggantikan haji bagi orang lain karena satu dan lain hal tidak bisa melaksanakan ibadah haji dengan sendiri. Sudah menjadi rahasia umum, saat musim haji tiba, banyak jasa badal haji baik di tanah suci maupun di tanah air.

Menurut pandangan kebanyakan ulama atau jumhur ulama, bahwa ketentuan orang yang akan membadalkan haji orang lain haruslah yang sudah berhaji terlebih dahulu. Jadi kalua missal belum berhaji, ia tidak bisa membadalkan haji orang lain.

Hal ini berlandaskan atas hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. Yang mengataka bahwa nabi Muhammad Saw pernah mendengar seseorang membaca niat haji ‘ Labbaik ‘an Syabromah (aku memenuhi panggilan-Mu dan ini haji dari Syabromah).

Dalam hal lain, para ulama bersepakat bahwa dalam urusan fikih, seseorang tidak boleh mendahulukan orang lain, ia harus mendahulukan dirinya sendiri barulah orang lain. Sama halnya Ketika ia akan berwudhu. Jika air wudhu itu hanya cukup untuk dirinya sendiri, maka pakailah untuk diri sendiri terlebih dahulu. Tidak boleh kemudian diberikan kepada orang lain.

Orang yang dibadalkan hajinya memiliki halangan atau uzur yang tidak bisa membuat dirinya pergi ke tanah suci. Mialnya karena usia sudah sangat tua sehingga tidak memungkinkan berangkat haji ke tanah suci. Selain itu juga karena saki yang berkepanjangan, atau meninggal dunia atau juga karena hal lain yang secara akal sehat tidak memungkinkan dirinya bisa berangkat ke tanah suci.

Orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji, tidak boleh dibadalkan atau digantikan oleh orang lain. Ia harus berusaha melaksanakan ibadah haji sendiri.

Ibnul Mundzir dalam Al-Mughni (3/185) mengatakan, tidak sah hajinya orang yang mampu namun membadalkan hajinya. Lembaga Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi menambahkan, uzur syar'i yang dapat diterima untuk dibadalkan hanyalah uzur yang bersifat fisik.

 

Jika uzur tersebut dalam hal finansial, gugurlah kewajiban haji dari dirinya dan tidak perlu untuk dibadalkan. Pembadal haji hanya bisa membadalkan satu orang.

Jika ingin membadalkan haji untuk orang tua yang sudah wafat atau masih ada tetapi sakit yang menyebabkan tidak bisa berangkat ke tanah suci, boleh menghubungi saya di nomer 0859-6661-8547 (Muksit Haetami).

Insya Allah amanah badal haji bapak/ibu akan kami laksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Muksit Haetami

Tour Leader Umroh