Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kejadian Aneh Saat Haji Menimpa Jamaah Wanita ini


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada video kali ini, saya akan menceritakan satu pengalaman jamaah haji yang dialami saat melaksanakan ibadah haji sekitar tahun 2009 silam.

Ini adalah tentang balasan bagi seorang jamaah haji yang menunda kebaikan atau tidak menyampaikan amanat dengan baik.

Seperti apa kelanjutan kisahnya, simak terus video ini sampai habis agar bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

Sebelumnya saya ucapkan selamat dating bagi yang baru bergabung di channel Muksit Haetami. Jangan lupa subscribe, like, dan komen juga nyalakan notifikasinya agar tidak ketinggalan video terbaru dari channel ini.

Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima. Setiap orang Islam dan beriman kemudian mampu makai a wajib melaksanakan ibadah haji ke tanah suci.

Untuk melaksanakan ibadah haji, perlu bekal yang cukup. Bekal tersebut berbentuk materi dan non materi.

Untuk mendapatkan bekal mental dan fisik yang cukup, sebelum berangkat ke tanah suci setiap jemaah haji dianjurkan untuk:

a. Memperbanyak istighfar, dzikir dan doa untuk bertaubat kepada Allah SWT dan memohon bimbingan dariNya; 

b. Menyelesaikan semua masalah yang berkenaan dengan tanggung jawab pada keluarga, pekerjaan dan utang-piutang; 

c. Menyambung silaturahim dengan sanak keluarga, kawan, dan masyarakat dengan memohon maaf dan doa restu; 

d. Membiasakan pola hidup sehat agar mudah melakukan ibadah haji dan umrah; 

e. Mempelajari manasik atau tata cara ibadah haji dan umrah sesuai ketentuan hukum Islam.

Agar bekal yang dibawa jemaah haji penuh berkah dan ibadah hajinya mabrur, setiap jemaah haji hendaknya: 

a. Mempersiapkan bekal yang cukup untuk kebutuhan selama perjalanan dan bekal yang memadai untuk keluarga yang ditinggalkan;  

b. Melaksanakan walimatussafar bagi yang mampu dengan niat mensyukuri nikmat Allah SWT dengan tetap menghin dari sikap sum’ah (mencari popularitas), riya (menonjolkan diri) dan mubahah (berbangga-bangga); 

c. Menyiapkan dokumen lengkap meliputi bukti lembar setor lunas Bipih (biaya perjalanan ibadah haji), buku kesehatan dan kartu kesehatan, kartu BPJS, buku paspor dan lembar visa haji; 

d. Membawa kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk keperluan transaksi keuangan, bagi yang memiliki; 

e. Membawa lima stel pakaian, termasuk pakaian seragam batik nasional yang sudah ditetapkan sebagai identitas nasional. 

f. Menyimpan dokumen yang tidak diperlukan di rumah, misalnya Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM), karena kedua dokumen ini tidak diperlukan selama jemaah haji berada di Tanah Suci;

Pada video kali ini, saya akan menceritakan satu kisah yang dialami oleh seorang jamaah haji pada tahun 2009 silam.

Cerita ini memang sudah sepuluh tahun lalu, tetapi mudah-mudahan terdapat hikmah yang bisa dipetik didalamnya.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap jamaah haji yang berangkat ke tanah suci pasti memiliki pengalaman atau cerita tersendiri.

Ada yang mengalami cerita positif, dan tidak sedikit yang mengalami sesuatu yang kurang mengenakan di tanah suci.

Semua itu Kembali kepada amal perbuatan yang bersangkutan selama di tanah air. Jelas dan nyata akan mendapatkan balasan di tanah suci.


Cerita ini bermula Ketika musim haji tahun 2009 silam. Saat sepasang suami istri berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Seperti biasa, lazimnya jamaah haji, mereka melakukan ibadah di tanah suci. Kejadian ini terjadi pada saat di kota Makkah al Mukarramah.

Suatu malam Ketika sang istri hendak menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah tawaf sunnah, shalat sunnah, tadarus al quran dan ibadah sunnah lainnya, ia dititipi uang oleh suaminya untuk disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Suaminya menitipkan uang beberapa lembar real kepada istrinya untuk disedekakan kepada yang berhak.

Dan lebih khusus agar diberikan kepada para pengemis yang berada di sepanjang jalan antara hotel tempat menginap sampai ke Masjidil Haram Makkah.

Sang istri sempat bilang ke suaminya “entar aja yah, kan kita masih lama disini”. 

Dan benar saja, Ketika sang istri tersebut menuju ke Masjidil Haram, ia tidak memberikan uang itu kepada para pengemis untuk disedekahkan. Padahal suaminya telah berpesan untuk disedekahkan.

Dalam hati sang istri ia berucap “nanti aja lah pas mau pulang atau kapan-kapan aja dikasihnya”.

Selang beberapa hari, saat sedang melaksanaan sa’I di bukit shafa dan marwa, ada sesuatu yang aneh yang menimpa jamaah wanita tersebut.

Ia didatangi sosok manusia besar dan tinggi serta bersorban lalu kemudian mencoba mengambil dompet yang berisi uang didalamnya dan barang-barang lain.

Jamaah perempuan itu berteriak minta tolong tetapi tidak bisa dan tidak ada yang mendengar teriakannya.

Jamaah wanita tadi mencoba minggir dari tempat sa’I, ia kaget bukan kepalang karena seluruh isi dompet tadi yang didalamnya ada uang, ktp, kartu-kartu, foto dan lainnya hilang semua.

Ia kemudian ingat pesan suaminya beberapa hari sebelumnya agar memberikan shodaqoh kepada para pengemis yang berada dijalan antara hotel dan Masjidil Haram.

Tetapi sang istri tersebut tidak mengindahkan perintah suaminya. Sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.

Demikian kisah nyata yang dialami oleh jamaah haji pada tahun 2009 silam. Semoga dapat menjadi pelajaran berharga untuk kita semua yang akan menunaikan ibadah haji.

Bahwa kebaikan itu jangan ditunda-tunda apalagi sudah ada amanah, maka harus ditunaikan. Karena di Tanah Suci, apa saja bisa terjadi.

Semoga kita senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin YRA.